Sabtu, 22 Oktober 2011

Denger Cerita Sejenak .. Yuk !!!

Alkisah, ada seorang anak yang memiliki watak yang buruk. Ayahnya kemudian memberinya sekantung penuh paku untuknya. Ia menyuruh anaknya untuk memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali ia kehilangan kesabarannya atau bertengkar dengan orang lain.

Hari pertama, sang anak memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya, ia belajar menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari. Lambat laun, ia mulai merasakan bahwa lebih gampang menahan diri untuk tidak berbuat buruk daripada memaku di pagar.

Akhirnya, tibalah hari ketika ia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun di pagar. Dengan gembira, disampaikannya hal itu kepada sang ayah. Ayahnya kemudian menyuruh mencabut sebatang paku di pagar setiap kali ia berhasil menahan diri untuk tidak berbuat buruk dan mampu bersabar.

Hari-hari berlalu dan akhirnya tibalah hari ketika ia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa anak ke pagar dan berkata :

” Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan lukadi hati orang lain itu seperti pada pagar ini. Kamu bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, akan tetapi ia akan meninggalkan luka. Tak peduli berapa kali pun kamu meminta maafatau menyesal, lukanya akan tetap tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik. ”

======

Kisah di atas mengingatkan kita untuk selalu mencoba menahan diri dari perbuatan lisan maupun fisik yang mungkin bisa melukai orang lain. Hal ini mengingatkan saya pada beberapa waktu lalu ketika saya melempar sebuah guyonan dengan maksud meredam kekalutan dari seseorang yang sedang mengadukan seorang rekannya. Akan tetapi tak dinyana guyonan yang saya lontarkan tersebut disampaikan dengan nada berbeda sehingga meninggalkan persepsi berbeda pula pada si penerima yang akhirnya merasa tersinggung dengan ucapan tersebut.

Hal yang tak pernah saya duga sebelumnya tentu saja. Namun demikian, ini memberikan sebuah pelajaran bagi saya pribadi, seperti juga kisah di atas, bahwa setiap perbuatan, lisan maupun tindakan memang harus selalu diperhitungkan dan tidak bisa sembarang dilontarkan, sekalipun hanya dimaksudkan sebagai candaan belaka.

Jangan sampai sesuatu yang kita anggap sebagai “biasa-biasa saja” ternyata harus meninggalkan luka di hati orang lain yang salah persepsi menangkap maksud ucapan kita karena tidak sedang berada dalam situasi yang sama.

Suasana hati kita yang sedang ceria saat itu mungkin tidak sama dengan suasana hati orang lain yang sedang merasa sensitif sehingga proses pemahamannya menjadi berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gunakan komentar yang baik dengan kata-kata yang sopan, komentar yang tidak bermanfaat dan bersifat tidak membangun, terpaksa langsung saya hapus. terimakasih :)